Kamis, 19 Maret 2009

TAMPANG ITU PERLU

Nasrudin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh.

"Tapi aku mengabdi kepada Allah saja," kata Nasrudin.

"Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah," kata istrinya.

Nasrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, "Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!" berulang-ulang. Tetangganya ingin mempermainkan Nasrudin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nasrudin. Tapi ia terkejut waktu Nasrudin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak "Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah."

Sang tetangga menyerbu rumah Nasrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nasrudin menjawab "Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah."

Tetangganya marah. Ia mengajak Nasrudin menghadap hakim. Nasrudin berkelit, "Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin."

Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.

Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nasrudin segera mengadukan halnya pada hakim.

"Bagaimana pembelaanmu?" tanya hakim pada Nasrudin.

"Tetangga saya ini gila, Tuan," kata Nasrudin.

"Apa buktinya?" tanya hakim.

"Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya."

Dengan kaget, sang tetangga berteriak, "Tetapi itu semua memang milikku!"

Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.

RELATIVITAS KEJU

Setelah bepergian jauh, Nasrudin tiba kembali di rumah. Istrinya menyambut dengan gembira,

"Aku punya sepotong keju untukmu," kata istrinya.

"Alhamdulillah," puji Nasrudin, "Aku suka keju. Keju itu baik untuk kesehatan perut."

Tidak lama Nasrudin kembali pergi. Ketika ia kembali, istrinya menyambutnya dengan gembira juga.

"Adakah keju untukku ?" tanya Nasrudin.

"Tidak ada lagi," kata istrinya.

Kata Nasrudin, "Yah, tidak apa-apa. Lagipula keju itu tidak baik bagi kesehatan gigi."

"Jadi mana yang benar ?" kata istri Nasrudin bertanya-tanya, "Keju itu baik untuk perut atau tidak baik untuk gigi ?"

"Itu tergantung," sambut Nasrudin, "Tergantung apakah kejunya ada atau tidak."

Nasruddin hoja


Dalam Wikipedia berbahasa Inggris tercatat bahwa Nasruddin hidup pada era abad pertengahan (sekitar abad ke-13 Masehi) di suatu tempat di Khorasan (sekarang daerah Iran bagian utara). Sedangkan menurut versi Turki, Nasruddin lahir di desa Hortu di Sivrihisar, Eskisehir pada abad yang sama. Menetap di Aksehir, Konya hingga akhir hayatnya. Selain versi Turki tersebut sebenarnya masih banyak lagi versi lain. Akan tetapi oleh beberapa kalangan masih banyak diragukan kebenarannya.

Keragaman versi mengenai asal muasal dan masa hidup sufi pelawak ini menunjukkan betapa luas ia dikenal. Saking populernya sampai-sampai banyak bangsa yang mengklaim Nasruddin sebagai warga kebangsaan mereka. Antara lain Arab, Persia, Turki, dan Uzbekistan. Maka tidak heran jika nama ‘Nasruddin’ seolah berubah-ubah sesuai dengan bahasa setempat di mana dia pernah dikenal.

Hal ini bisa dipahami karena Nasruddin adalah salah seorang filsuf populis dan seorang bijak. Ia dikenal karena anekdot-anekdotnya yang banyak memasukkan persoalan sehari-hari sebagai bahan leluconnya. Bahkan di China dia juga dikenal dengan sebutan Afanti, seorang pahlawan rakyat jelata dari Uyghurs (istilah China untuk orang Turki).
Kiranya kepopuleran Nasruddin dalam dunia komedi masih belum tertandingi khususnya di wilayah Asia hingga sekarang. Barangkali ia termasuk dalam kategori komedian yang telah menjadikan humor sebagai weltanchauung atau filosofi hidup seperti yang Wittgenstein bilang bahwa “Humor ist keine Stimmung, sondern eine Weltanschauung” (Humor bukanlah soal perasaan tapi soal filosofi hidup-pen).

Pemosisian humor sebagai filosofi hidup itulah kiranya yang menjadikan kehidupan Nasruddin penuh dengan kekonyolan yang kerap mengundang senyum bahkan tawa. Namun penting sekali diingat bahwa aroma humor dalam kisah-kisah tersebut bukan asal lucu. Tapi senantiasa syarat akan pesan moral dan pelajaran berharga bagi siapapun yang mau memperhatikannya.
Lebih dari itu, dia adalah sufi yang mengajarkan nilai-nilai kesufian melalui humor sebagaimana Jalaluddin Rumi mengajarkan kesufian dalam bentuk sajak-sajak. Bahkan pada zaman setelahnya cerita-cerita tentang Nasruddin menjadi salah satu pelajaran yang diajarkan pada murid-murid di kalangan kaum sufi. Di Indonesia, kisah-kisah tentang Nasruddin juga banyak bertebaran di kalangan pesantren yang laris manis bak kacang goreng sebagai bahan obrolan di antara para santri.

Memang, citra diri Nasruddin yang tergambar secara eksplisit maupun implisit dalam kisah-kisah kocaknya senantiasa tidak jauh dari citra dungu, miskin dan terbelakang. Dan tentu saja dia sendiri tidak mau repot-repot untuk ambil peduli terhadap citra yang orang lekatkan pada dirinya.
Justru pada tataran itulah menunjukkan pada sisi mana dia berpihak. Hal ini tampak pada citra diri Nasruddin yang juga dikenal sebagai simbol komedian satiris Timur Tengah yang tidak takut berhadapan dengan kekuatan rezim pemerintahan tirani pada zamannya.

Begitulah. Seperti apapun citra yang dunia lekatkan pada dirinya, Nasruddin tetaplah sebuah fenomena luar biasa dalam dunia komedi sufi. Hingga sekarang pengaruhnya masih kuat terasa. Kisah-kisah lucunya bahkan masih dapat kita temui di sekitar kita dan seolah seperti tak lekang dimakan zaman.
Ia adalah citra dunia itu sendiri. Kadang rasional kadang irrasional. Kadang aneh kadang normal. Kadang bodoh kadang cerdik. Kadang dangkal kadang mendalam. Sederhananya dia adalah seorang yang tidak mudah ditebak.

Kisah-kisahnya juga memunculkan kesan bahwa tidak ada yang sempurna dalam diri manusia. Yang sempurna hanya Tuhan semata. Hal ini tentu saja berseberangan dengan konsep Insan al-Kamil (Manusia seutuhnya) milik ibn al-Arabi yang menyatakan bahwa manusia akan menjadi sempurna jika dia sudah wahdat al-wujud (bersatu dengan Tuhannya).

KELEDAI MEMBACA

KELEDAI MEMBACA

Timur Lenk menghadiahi Nasrudin seekor keledai. Nasrudin menerimanya dengan senang hati. Tetapi Timur Lenk berkata,

"Ajari keledai itu membaca. Dalam dua minggu, datanglah kembali ke mari, dan kita lihat hasilnya."

Nasrudin berlalu, dan dua minggu kemudian ia kembali ke istana. Tanpa banyak bicara, Timur Lenk menunjuk ke sebuah buku besar. Nasrudin menggiring keledainya ke buku itu, dan membuka sampulnya.

Si keledai menatap buku itu, dan tak lama mulai membalik halamannya dengan lidahnya. Terus menerus, dibaliknya setiap halaman sampai ke halaman akhir. Setelah itu si keledai menatap Nasrudin.

"Demikianlah," kata Nasrudin, "Keledaiku sudah bisa membaca."

Timur Lenk mulai menginterogasi, "Bagaimana caramu mengajari dia membaca ?"

Nasrudin berkisah, "Sesampainya di rumah, aku siapkan lembaran-lembaran besar mirip buku, dan aku sisipkan biji-biji gandum di dalamnya. Keledai itu harus belajar membalik-balik halam untuk bisa makan biji-biji gandum itu, sampai ia terlatih betul untuk membalik-balik halaman buku dengan benar."

"Tapi," tukas Timur Lenk tidak puas, "Bukankah ia tidak mengerti apa yang dibacanya ?"

Nasrudin menjawab, "Memang demikianlah cara keledai membaca: hanya membalik-balik halaman tanpa mengerti isinya. Kalau kita membuka-buka buku tanpa mengerti isinya, kita disebut setolol keledai, bukan ?"


YANG BENAR-BENAR BENAR

Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:

"Aku rasa engkau benar."

Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:

"Aku rasa engkau benar."

Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah ! Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:

"Aku rasa engkau benar."

Smile Nasrudin Hoja: Jangan Terlalu Dalam

Telah berulang kali Nasrudin mendatangi seorang hakim untuk mengurus suatu perjanjian. Hakim di desanya selalu mengatakan tidak punya waktu untuk menandatangani perjanjian itu. Keadaan ini selalu berulang sehingga Nasrudin menyimpulkan bahwa si hakim minta disogok. Tapi –kita tahu– menyogok itu diharamkan. Maka Nasrudin memutuskan untuk melemparkan keputusan ke si hakim sendiri.

Nasrudin menyiapkan sebuah gentong. Gentong itu diisinya dengan kotoran sapi hingga hampir penuh. Kemudian di atasnya, Nasrudin mengoleskan mentega beberapa sentimeter tebalnya. Gentong itu dibawanya ke hadapan Pak Hakim. Saat itu juga Pak Hakim langsung tidak sibuk, dan punya waktu untuk membubuhi tanda tangan pada perjanjian Nasrudin.

Nasrudin kemudian bertanya, “Tuan, apakah pantas Tuan Hakim mengambil gentong mentega itu sebagai ganti tanda tangan Tuan ?”

Hakim tersenyum lebar. “Ah, kau jangan terlalu dalam memikirkannya.” Ia mencuil sedikit mentega dan mencicipinya. “Wah, enak benar mentega ini!”

“Yah,” jawab Nasrudin, “Sesuai ucapan Tuan sendiri, jangan terlalu dalam.” Dan berlalulah Nasrudin.

Selasa, 17 Maret 2009


hola..
Panggil saya yudi saja, biar keliatan lebih akrab...
Apalagi ya..? Saya bingung, cuz temen saya buru2 mo plang..
Ya dah deh, sementara tu dulu ja.. besok dibenerin lagi..
Love u All... c u...
Oh iya saya lupa, saya masih pemula.. so jangan salahin saya, mendingan langsung maafin saya aj.. ok. thanks berat dh..